IKLAN: DIJUAL TANAH+BANGUNAN, COCOK UNTUK PERKANTORAN, BANK & HOTEL | STATUS: SHM | LUAS TANAH : 1.867 M2 | ALAMAT : JL. GAJAH MADA 79-81 SURAKARTA (SEBERANG HOTEL SAHID RAYA) | DAERAH : COMMERCIAL AREA (SK WALIKOTA) | HARGA:14.000.000/M2 (NEGO) | HUBUNGI: ROYKE(031-83150522), BAMBANG(031-91082810)
User Rating: / 0
PoorBest 

Lelaki itu seumuran dengan almarhum Papa, namanya Pak Danu. Aku bertemu pertamakali dengan Pak Danu saat Papa meninggal. Dia kawan dari Papa, saat masih berdinas dahulu di salah satu perusahaan. Dari caranya bercerita, terlihat sekali Pak Danu berusaha mendapatkan simpati Mama.

Entahlah, tiba-tiba saja perasaanku mengatakan bahwa orang ini memiliki maksud-maksud yang tidak baik dalam keluargaku. Atau aku hanya berburuk sangka?

Tiga bulan setelah Papa meninggal, Mama masuk rumah sakit. Kasihan Mama. Untungnya beliau hanya dirawat selama satu minggu saja. Selebihnya dirawat di rumah sambil kontrol secara berkala.

Ketika aku mengantar Mama kontrol ke rumah sakit, kami bertemu dengan lelaki itu, Pak Danu. Kami pun berjabatan tangan sambil berbincang-bincang pendek.

Keesokan harinya ketika aku dan Mama berbincang-bincang di kamar, Mama mengatakan ada sesuatu yang aneh. Mama selalu teringat dengan Pak Danu, padahal Mama tidak mempunyai perasaan apapun sedikit saja. Semenjak itu, Pak Danu sering bertandang ke rumah dengan perhatian yang luar biasa kepada kami, terutama Mama. Melihat hal ini, Suamiku memberi tahu, tidaklah mungkin seorang lelaki berlebihan perhatiannya tanpa ada maunya. Hmm, kecurigaanku mulai muncul.

Waktu berlalu, aku melihat Mama seperti bukan mamaku yang dulu. Apa-apa saja yang dikatakan Pak Danu dan apa yang dilakukan Pak Danu, di mata Mama semuanya benar dan baik. Aku dan Mama hampir setiap hari bertengkar, terutama jika pokok bahasannya adalah ‘Pak Danu’.

Mama seakan-akan memusuhi kami anak-anaknya, apalagi kalau kami menyinggung hubungan mama dan Pak Danu. Jangan dikata, pasti Mama akan meledak marahnya. Bahkan Mama sudah mempunyai rencana untuk menikah tanpa menunggu seribu hari Papa kami.

Mama dan Pak Danu berencana menikah dalam waktu dekat. Gilanya, Mama bermaksud menjual rumah yang sekarang kami tempati bersama. Uang hasil penjualan rumah akan dibelikan rumah yang rencananya ditempati Mama dan Pak Danu. Sungguh rencana yang tidak masuk akal. Aku tidak bisa berkata apa-apa selain mengiyakan saja. Tapi rasa penasaran dan kecurigaanku sudah memuncak.

Kutemui beberapa orang pintar untuk menanyakan persoalan ini. Semua jawaban yang kuterima bernada sama, bahwa Pak Danu mempunyai tujuan yang tidak baik. Ternyata kecurigaanku selama ini benar dan beralasan. Pak Danu menggunakan guna-guna untuk mendekati Mama. Dan jika hubungan mereka diteruskan, Mama akan menderita. Oh, Mama, jangan terjadi…..

Satu-satunya cara adalah memberitahukan persoalan ini kepada Eyang. Eyang pasti tahu bagaimana cara untuk mengingatkan Mama. Dan syukurlah, Eyang menasehati Mama dengan caranya, lalu Mama menjadi sadar.

Sayangnya hal ini tidak berlangsung lama. Mama kembali lagi bersama dengan Pak Danu. Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.

Lambat laun, Mama mulai sadar bahwa Pak Danu bukanlah suami yang baik buat Mama. Satu tahun sebelum Mama meninggal, ditinggalkanlah Pak Danu untuk memilih hidup bahagia bersama kami anak-anaknya. Mama mulai dekat lagi bersama kami, dan kami terus berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik buat Mama. Satu ketika Mama bahkan mengatakan jika beliau sangat rindu dengan Papa. Mamaku tercinta…