IKLAN: DIJUAL TANAH+BANGUNAN, COCOK UNTUK PERKANTORAN, BANK & HOTEL | STATUS: SHM | LUAS TANAH : 1.867 M2 | ALAMAT : JL. GAJAH MADA 79-81 SURAKARTA (SEBERANG HOTEL SAHID RAYA) | DAERAH : COMMERCIAL AREA (SK WALIKOTA) | HARGA:14.000.000/M2 (NEGO) | HUBUNGI: ROYKE(031-83150522), BAMBANG(031-91082810)
User Rating: / 0
PoorBest 

Surabaya Buat Master Plan Sampah

Gandeng JICA, sasaran penanganan di tingkat kampung.

 

SURABAYA-Pemkot Surabaya akan membuat master plan pengelolaan sampah. Tujuannya untuk menunjang rencana akan diadakannya sistem pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Benowo.

Program tersebut akan diwujudkan bekerja sama antara Pemkot Surabaya dengan JICA, Jepang. “Kami sedang menggagas bentuk kerja sama dan pihak JICA sendiri sudah memberi lampu hijau,” kata Ir Hidayat Syah, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota, Sabtu (6/2).

Menurutnya, master plan pengelolaan sampah berbeda dengan sistem pengelolaan yang akan diterapkan di TPA Benowo. Pengelolaan sampah di Benowo direncanakan dengan menggunakan teknolgi tinggi dan menghasilkan energi listrik serta pupuk. Sementara teknologi yang digunakan master plan sampah dilakukan di tiap kawasan setingkat kelurahan atau kecamatan.

Nantinya, masing-masing kelurahan atau kecamatan disiapkan alat khusus berskala kecil. Mengingat skala kecil, kemampuan pengelolaannya juga kecil. Tapi alat tersebut sudah bisa mewakili untuk penanganan sampah di tingkat kampung. Terutama pengelolaan sampah untuk pupuk.

Sampah yang dikelola jadi pupuk secara langsung bahannya adalah sampah basah yang terdiri dari sampah sisa-sisa sayur-mayur, kulit buah dan dedaunan lain. Sampah ini dihancur sampai lembut dan dikeringkan. Kemudian dikemas di dalam kantong plastik, yang selanjutnya pupuk dijual ke masyarakat.

Konsep ini meniru pengelolaan sampah di Jepang. Di Jepang, lanjutnya, sampah organik atau sampah yang berasal dari sisa-sisa tumbuhan dikemas tersendiri dan hasil pengelolaannya dijual untuk pupuk tanaman.

Sementara sampah anorganik yang terdiri dari plastik, kertas, logam dan sejenisnya dikelola di TPA.

“Sebetulnya, tidak ada perbedaan hasil pengelolaan sampah organik di tiap kawasan bila dibanding dengan pengelolaan sampah di TPA. Tapi pengelolaan sampah di tiap kawasan bertujuan untuk mengurangi volume sampah di TPA, sehingga beban TPA terkurangi,” ungkapnya.

Langkah yang dilakukan DKP, lanjutnya, karena masalah persampahan di kota besar di Surabaya atau kota-kota besar lain di negeri ini tidak akan pernah habis dikelola investor sampah. Masalah sampah di kota besar akan tetap ada dan selalu dinamis.

Volume sampah di Surabaya saat ini, katanya, telah mencapai 88.000 m3 /hari. Jumlah ini tidak akan pernah habis sekalipun dikelola menggunakan teknologi tinggi. Bahkan, jumlahnya akan terus meningkat mengingat jumlah penduduk terus bertambah. (sp)