31 January 2010
Posted in
Seputar Surabaya -
Sosial Budaya
Cikal Bakal dari Bubutan
Sebut saja nama Bubutan. Pasti nama kampung itu identik dengan sejarah dan perjuangan. Memang, banyak kalangan menyebut Kampung Bubutan termasuk salah satu kampung tua sebagai cikal bakal Kota Surabaya.
KAMPUNG Bubutan berada di Kelurahan Alun-Alun Contong. Tidak jauh dari Tugu Pahlawan. Dinamakan Bubutan konon karena sejak zaman dulu banyak warga di kampung itu yang mengembangkan usaha di bidang mesin bubut. Namun, versi lain menyebutkan, Bubutan berasal dari kata butotan yang berarti pintu gerbang.
Arsitektur bangunan-bangunan di Kampung Bubutan sangat kental dengan gaya kolonialisme Belanda, Arab, dan Tionghoa. Namun, masih terlihat adaptasi sentuhan Jawa. Meski banyak yang berusia lebih dari seabad, toh rumah-rumah di Kampung Bubutan itu masih orisinal.
Berjalan menyusuri perkampungan Bubutan memang cukup mengasyikkan. Tidak hanya wujud fisik bangunan ala kolonial Belanda, interior masing-masing rumah juga sangat unik. Benar-benar membawa nuansa tempo dulu bagi setiap orang yang mengunjungi.
Konon, beberapa kampung merupakan bentukan pihak keraton sebagai bagian dari fasilitas bagi kalangan istana. Tidak terkecuali Kampung Bubutan. Kala itu, Kampung Bubutan berada di bagian barat keraton. Bubutan termasuk gerbang yang menghubungkan antara Kampung Tumenggungan dengan keraton pada masa Adipati Surabaya itu, seorang tokoh legenda di ranah Surabaya zaman silam. Karena itulah, beberapa penulis mengindikasikan kata Bubutan tersebut lebih merupakan transliterasi dari nama butotan menjadi Bubutan.
Kawasan Alun-Alun Contong saat ini didominasi warga suku Jawa. Di kawasan seluas 64,7 hektare tersebut, sekitar 4 ribu jiwa merupakan warga suku Jawa atau sekitar 50 persen di antara total penduduk yang berjumlah 7.954 jiwa. Lalu, 30 persen lainnya merupakan warga keturunan Tionghoa. Sisanya, ada etnis Madura, Arab, serta India.
Persebaran penduduk di kawasan tersebut terbilang tidak merata. Hanya beberapa wilayah yang dipadati penduduk. Di antaranya, RW Gemblongan, Johar, dan Sulung. ''Sebab, sejak daerah ini berkembang menjadi perdagangan dan jasa, banyak rumah yang dialihfungsikan menjadi toko,'' ujar Moch. Amin, lurah Alun-Alun Contong.
Dia menambahkan, perkembangan kawasan Alun-Alun Contong menjadi area perdagangan dan jasa mengakibatkan munculnya penduduk semu. Yakni, penduduk yang hanya tercatat sebagai warga, namun tidak berdomisili. Bahkan, dia memperkirakan penduduk riil tak sampai 50 persen. Di antara 7.954 jiwa, hanya sekitar 3 ribu yang menetap. ''Itu terlihat setiap ada pemungutan suara dalam pemilu,'' ujarnya.
Menurut Amin, wilayahnya itu sekarang bak dua sisi mata uang berbeda. Pemandangan siang dan malam di kawasan Alun-Alun Contong, sungguh jomplang. Jika siang begitu dinamis dan semarak dengan aktivitas, saat malam seolah mati suri. ''Ya paling hanya di kampung-kampung itu tadi yang ramai,'' imbuhnya.
| < Prev | Next > |
|---|














