IKLAN: DIJUAL TANAH+BANGUNAN, COCOK UNTUK PERKANTORAN, BANK & HOTEL | STATUS: SHM | LUAS TANAH : 1.867 M2 | ALAMAT : JL. GAJAH MADA 79-81 SURAKARTA (SEBERANG HOTEL SAHID RAYA) | DAERAH : COMMERCIAL AREA (SK WALIKOTA) | HARGA:14.000.000/M2 (NEGO) | HUBUNGI: ROYKE(031-83150522), BAMBANG(031-91082810)
User Rating: / 0
PoorBest 

Naik Feri Sekarang Lebih Longgar

 
Munculnya jembatan Suramadu menjadi fenomena baru dalam dunia transportasi, khususnya penyeberangan selat Madura. Sebab tidak bisa dipungkiri, jika sarana penyeberangan yang menghabiskan anggaran negara triliunan rupiah itu menjadi ‘rival’ tunggal bagi jasa penyeberangan dengan kapal feri .

Tak heran aliran pengguna jasa penyeberangan pun beramai-ramai melintasi ‘udara’ selat Madura dengan sarana jembatan. Euforia masyarakat seakan terlampiaskan dengan bangunan megah sepanjang 5,4 km ini.

Mereka menganggap, fasilitas baru di penyeberangan tersebut sangat representatif dan murah meriah. “Keberadaan jembatan Suramadu sangat menguntungkan kami. Selain murah juga  praktis,” ujar seorang pengguna jasa jembatan Suramadu, Halil dengan polos.

Lelaki yang mengaku mondar-mandir Surabaya-Madura itu bisa dua kali sehari melintas selat Madura dengan jembatan Suramadu. Menurutnya dengan menggunakan jembatan Suramadu, perjalanannya semakin lancar dan cepat. “Saya hanya butuh waktu tidak lebih dari 15 menit untuk sampai Madura menggunakan motor. Dan bisa pergi setiap saat hanya dengan keluar uang Rp 3 ribu,” katanya.

Zaini, warga Bangkalan mengaku nyeberang menggunakan jembatan Suramadu lebih murah dan cepat. Dengan keluar uang Rp 30 ribu, bisa membawa keluarga besar. “Bawa mobil nyeberang jembatan cukup membayar Rp 30 ribu berapapun penumpangnya. Kalau naik feri biayanya lebih mahal. Yang dipatok nggak hanya mobil, setiap penumpang mobil juga harus bayar.  Sekitar 10 menit, nyeberang jembatan sudah sampai ke Surabaya,” katanya.

Bebeda dengan yang diutarakan Zaki (25). Pemuda pengguna jasa penyeberangan ini merasa lebih leluasa dengan menumpang kapal feri dibanding harus melewati Suramadu. Menurutnya, kapal feri sudah menjadi angkutan keluarga sejak dulu dari Madura ke Surabaya dan sebaliknya. Kebetulan rumahnya dekat dengan Kamal.

“Zamannya kakek saya, kalau ke Surabaya mesti naik feri. Sekarang enak naik feri lebih longgar, nggak desak-desakan lagi seperti dulu,” ujarnya sambil menunjuk salah satu kapal yang bersiap datang masuk dermaga Tanjung Perak, Surabaya.

Alasan lain yang dikemukakan warga Bangkalan ini, naik kapal feri lebih praktis karena rumahnya berada di daerah Kamal.  Kalau menggunakan jembatan Suramadu, turunnya bus agak jauh dengan tempat tinggalnya. Sehingga dia mengeluarkan biaya tambahan untuk naik angkota.

“Bagi saya, naik feri lebih praktis karena rumah saya berada di daerah Kamal. Mungkin bagi warga Sampang, Pamekasan dan Sumenep, lebih praktis menggunakan jembatan Suramadu,” katanya.

Pimpinan Kantor Cabang (Kancab) PT ASDP Indonesia Ferry, Tanjung Perak, Prasetya B. Utomo mengatakan sejak dibukanya proyek nasional jembatan Suramadu untuk umum 10 Juni 2009 lalu, layanan penyeberangan kapal feri  ikut terkena imbasnya.

“Tapi, kita sempat jaya waktu tahun 1969 sampai akhirnya menurun sejak ada Suramadu,” tepis Pras

Dijelaskannya penurunan angka pengguna jasa penyeberangan di dermaga Tanjung Perak dan dermaga Kamal-Madura pun merosot dari hari ke hari. Jasa transportasi yang ada sejak zaman kolonial itu akhirnya harus mengakui keberadaan jembatan Suramadu.  Untuk menarik konsumen mau naik feri lagi, pihaknya terus memberikan pelayanan maksimal melalui pembenahan sarana kapal. Misalnya dengan membuat fasilitas pendukung berbagai macam permainan di kapal.

“Seperti di KF Wicitra Dharma, ada permainan anak-anak, ada juga ruang bersantai dan bisa berkaraoke bersama keluarga dan rekan. Pokoknya, kita desain senyaman mungkin untuk para penumpang kapal,” ujarnya. (sp)