23 January 2010
Posted in
Seputar Surabaya -
Mrono-mrene
Modus Surabaya Cenderung Konvensional
Kapolwiltabes Surabaya, Kombes Pol Ike Edwin, mengatakan kasus pembobolan ATM ini sejatinya banyak yang berhasil diungkap. Namun modusnya cenderung konvensional. Cirinya tak menggunakan teknologi tinggi, tapi menggunakan jalan kekerasan dan penipuan.
Ditembak matinya tersangka Hardiantono yang bertugas sebagai tukang las penjebol mesin ATM beberapa bulan lalu itu.
“Sedangkan modus yang kini digunakan dalam pembobolan massal nasabah sejumlah bank di Bali, yakni skimming, relatif masih baru di Indonesia,” katanya.
Calam catatan pihak kepolisan, cara konvensional juga pernah dilakukan pembobol ATM Bank CIMB Niaga di Carrefour, Jalan A. Yani beberapa waktu lalu. Salah seorang pelaku akhirnya ditembak polisi karena berusaha kabur. Tiga lainnya lolos. Tempat ini dipilih karena ATM CIMB di Carrefour A. Yani saat kejadian tidak dilengkapi CCTV.
Peristiwa itu terjadi saat korban bernama Yulia hendak berbelanja di Carrefour. Dia lalu mengambil uang di ATM Center. Rupanya, sudah ada empat orang satu komplotan yang mengincar korban. Mereka adalah Ali Sahbana, Suprianto, Unci, dan Ruslan.
Komplotan ini telah memasang kertas bertuliskan “Bagi nasabah CIMB Niaga yang terhormat, jika kartu ATM Anda tertelan, segera hubungi 031-91200xxx. Padahal itu hanya akal-akalan komplotan ini.
Benar saja, saat itu ATM Yulia nyangkut. Dia pun menghubungi nomor telepon tersebut. Kemudian datanglah Ali dan Unci. Keduanya meminta Yulia keluar, lalu mengutik-utik ATM korban. ATM itu sebenarnya hanya tersangkut mika dan selotip yang sengaja ditempelkan para pelaku sebagai "ranjau". Merasa ada yang aneh korban berteriak-teriak.
Merasa ketahuan, empat pelaku cepat-cepat kabur. Mereka semburat dari kawasan Carrefour. Teriakan Yulia didengar anggota Polsek Gayungan yang sedang patroli. Ali sempat terkejar polisi. Karena dia tidak mau menyerah, polisi pun menembak kaki Ali hingga tersungkur. Tiga temannya memilih kabur, menyelamatkan diri.
Data kepolisian juga mengungkap pembobolan kartu ATM lebih canggih juga pernah terjadi di Surabaya empat tahun silam. Pembobol adalah pemilik toko yang mencuri data kartu ATM pelanggan tokonya sendiri.
Kasus itu dibongkar setelah mendapat laporan dari sebuah bank, yang menyatakan nasabah mereka banyak yang mengeluhkan kartunya dibobol.
Pembobol adalah seorang pemilik toko. Pemilik toko ini memasang alat penyadap data, bermerek Axicon, yang ia beli di Hong Kong Rp 50 juta.
Mesin pencuri data ini tidak dipasang di mesin ATM, tapi di pembaca kartu ATM di tokonya. Alat ini, disambungkan ke laptop untuk menyimpan data.
Setiap kali ada pelanggan toko datang dan bertransaksi lewat ATM, si pemilik toko beraksi. Begitu ATM digesek, datanya tidak hanya terkirim ke komputer bank tapi juga ke laptop milik toko.
Data itu digunakan untuk membuat tiruan kartu ATM. Si pemilik toko hanya perlu membeli kartu magnetik kosong yang banyak dijual. Untuk password juga gampang. Para pembeli yang kurang waspada, biasanya teledor saat memijit password alias tanpa pengaman. Si pemilik akan melirik tangan pembeli dan menghapal enam angka password itu.
Dengan modal kartu tiruan dan password yang ia hapalkan itu, si pemilik toko menguras isi rekening para pelanggannya selama dua bulan dan menghabiskan Rp 300 juta.
Kombes Pol Pudji Astutik, Kepala Bidang Humas Polda Jatim mengatakan skimming kartu ATM ini juga meresahkan penduduk Amerika Serikat (AS), Australia, dan negara-negara di Eropa. Bekas pelaku kasus kejahatan cyber yang kini bekerja untuk dinas rahasia Amerika Serikat (AS), Dan DeFelippi menduga gerombolan penjahat memilih modus ini karena sangat mudah dilakukan. “Apalagi saat ini ada banyak situs internet yang menyediakan tutorial untuk melakukan skimming atau kejahatan cyber lainnya,” katanya. (sp)
| < Prev | Next > |
|---|














